Kamis, 17 Februari 2011

Upacara Hut Kota Solo ke-266 Kental Bernuansa Jawa

 


Perpindahan Kraton Mataram dari Kartasura ke Solo, kamis siang (17/2), diperingati dengan sebuah upacara bernuansa Jawa di lapangan Kotabarat, Solo, Jawa Tengah. Sebuah tarian berjudul "Sesaji" pun dipersembahkan, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas peristiwa yang menjadi cikal bakal berdirinya kota Solo tersebut.


Peringatan perpindahan Kraton Mataram dari Kartasura ke Solo, atau yang dikenal dengan HUT Kota SOLO, diikuti ratusan warga dari berbagai kalangan. Tidak seperti biasanya, mereka hadir dengan mengenakan aneka busana jawa Khas Solo. Hal ini dilakukan karena upacara ini memang dikemas dengan nuansa Jawa yang sangat kental. Upacara dipimpin langsung oleh wakil walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo.

Mengawali upacara peringatan, sebuah sajian tari dipersembahkan oleh 18 siswa SMK 8 Solo. Tarian yang disajikan berjudul "Sesaji", sebagai gambaran ungkapan rasa syukur atas peristiwa perpindahan kraton Solo, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya kota Solo.


 

 


Perpindahan Kraton Mataram dari Kartasura ke Solo terjadi pada tahun 1745, menyusul hancurnya kraton tersebut akibat pemberontakan orang Tionghoa melawan kekuasaan Pakubuwono II. Meski akhirnya pemberontakan bisa ditumpas dengan bantuan VOC, kraton Mataram tetap dipindah, karena, sudah hancur dan dianggap tercemar.

Sunan Pakubuwono II, kemudian, memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Mangkuyudo serta Komandan Pasukan Belanda, JAB Van Hohendorff untuk mencari lokasi ibukota kerajaan Mataram Islam yang baru.

Akhirnya ditemukanlah lokasi baru, yaitu di desa Sala, di tepian sungai Bengawan Solo. Dalam perkembangannya, lokasi ini berkembang menjadi kota Solo, seperti yang dikenal saat ini. Karenanya, peristiwa ini selalu diperingati warga setempat sebagai Hari Ulang Tahun atau HUT Kota Solo. Peringatan hari ini merupakan HUT Kota Solo ke-266. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar