Rabu, 06 April 2011

Kritik dalam Kartun 3 Dimensi, Kreasi Baru Perajin Solo

Kartun sebagai media kritik sosial mungkin sudah dikenal sejak lama. Namun, kartun karya seorang perajin asal Solo, Jawa Tengah, ini berbeda dengan model yang selama ini ada. Kartun buatannya berbentuk tiga dimensi, karena, merupakan pengembangan seni liping, yang selama ini digelutinya.


Kritik melalui media gambar kartun atau karikatur seperti ini mungkin sudah biasa kita lihat di sejumlah media massa di tanah air. Isinya, menyentil segala persoalan aktual yang sedang berkembang, dengan pendekatan yang cukup jenaka dan seringkali membuat tertawa. Tak hanya di indonesia, kartun jenis ini pun sudah ada sejak lama di seluruh belahan dunia.
Namun, lihatlah kartun-kartun berisi kritik sosial yang dibuat seorang perajin asal Pajang, Solo, Jawa Tengah, bernama Bejo Wage Suu ini. Berbeda dengan kartun kebanyakan, kartun hasil karyanya berbentuk tiga dimensi, dengan menggunakan model patung-patung kecil dari kayu. Namun, seperti karya kartun lain, tema yang diangkat pun tema-tema sosial yang sedang aktual. Seperti kasus kisruh di tubuh PSSI, persidangan Gayus, konflik keistimewaan DIY dan sebagainya.
 

“Sekedar seloroh aja. Misalnya, dalam kartun mengkritisi kisruh PSSI yang sedang aktual ini. Diungkapkan, FIFA akan membentuk Komite Normalisasi PSSI, berarti, dari dulu, PSSI tidak normal..,” ujar Bejo.
 

Pembuatan kartun tiga dimensi ini tergolong cukup sederhana dan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat, yaitu, kayu pinus, seng, lem dan cat. Awalnya, kayu pinus dipotong sesuai ukuran dan bentuk yang diinginkan. Selanjutnya, dihaluskan dengan pisau, sehingga, bentuk yang diinginkan bisa lebih terlihat. Setelah itu, disusun sesuai model diinginkan dengan cara di lem. Selanjutnya, model-model patung kecil yang sudah tersusun dicat, agar karakter yang diinginkan bisa lebih jelas. Barulah, dituliskan kata-kata sesuai kritik sosial yang ingin disampaikan.
“Saya ingin mendokumentasikan kejadian-kejadian dalam kurun waktu tertentu melalui karikatur 3 dimensi ini, agar tidak mudah terlupakan,” ungkapnya.
Karya kartun ini dirintisnya sejak 6 bulan lalu yang merupakan pengembangan dari seni liping yang sudah ditekuninya sejak tahun 1998. Tujuannya, tak lain, adalah memberikan warna bagi perkembangan dunia kartun atau karikatur di tanah air dan memberikan media alternatif dalam melakukan kritik sosial. Melalui media seni seperti ini, ia berharap, kritik sosial bisa disampaikan dengan cara-cara yang lebih santun dan menarik perhatian masyarakat.
Satu karya kartun 3 dimensi ini dijual dengan harga berkisar Rp  100 hingga 350 ribu per buah. Namun, jika anda ingin memilikinya, mungkin anda masih harus bersabar, karena, kreasi kartun tiga dimensi ini baru akan dilaunching Bejo pada bulan Juni mendatang pada even Festival Kesenian Yogyakarta atau FKY 2011. “Sejak awal, saya memang biasa melaunching kreasi baru pada even budaya di Yogyakarta tersebut,” katanya. (*)

2 komentar:

  1. Titip salam nggo Mas nya ini ya Nde. Piye kabare usahane ? Isik ng Pajang tho omahe ?

    BalasHapus
  2. isih nde.. tapi dudu sing cedhak kuburan kae.. pindah ning cedhak SMK BATIK..

    BalasHapus